Kapal Penyeberangan di Atas 5.000 GT Dinilai Irit Bahan Bakar

Kapal penumpang bersama kapasitas tidak cukup berasal dari 5.000 GT dipastikan tak boleh beroperasi di lintas pelayaran Merak-Bakauheni per Desember 2018. Hanya kapal di atas 5.000 GT yang dapat beroperasi di lintas pelayaran tersebut.

Hal itu seiring bersama resminya pemberlakukan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 88 Tahun 2014. Ketua DPP Indonesia National Ferryowners Association Edi Oetomo pun menunjang kebijakan tersebut.

Pasalnya, kapal bersama kapasitas lebih berasal dari 5.000 GT lebih hemat mengonsumsi bahan bakar minyak (BBM).

“Kalau kapal lama di bawah 5.000 GT menyerap 7,5 ton BBM per hari tetapi yang baru di atas 5.000 GT hanya 3,5 ton hingga 4 ton per hari dengan menggunakn flow meter solar,” kata Edi di Jakarta

Hal selanjutnya diketahui Edi lewat kapal Munic IX baru punya PT Munic Line yang miliki kapasitas hingga 8.000 GT.

Kapal selanjutnya diketahui jadi tiga kapal di atas 5.000 GT yang telah beroperasi di lintas pelayaran Merak-Bakauheni.

“Jadi enggak selamanya kapal baru lebih boros. Dia kan teknologinya lebih canggih, lebih advance dibandingkan yang lama bersama kapasitas di bawah 5.000 GT,” sebutnya.


Di segi lain, Permenhub 88 Nomor 2014 merupakan antisipasi Kemenhub atas kemungkinan meningkatnya aktivitas pelayaran Merak-Bakauheni imbas berasal dari jadi beroperasinya Ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 140 kilometer terhadap akhir th. ini.

“Operasional tol ini sudah pasti akan mengubah kebiasaan pelayaran yang tadinya selamanya malam dapat jadi pagi atau siang.

Makanya kita berasal dari INFA termasuk menyiapkan kapal yang cocok bersama permenhub itu,” ucap Edi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *